Tuesday, February 22, 2005
Monday, February 21, 2005
Friday, February 04, 2005
Tsunami di Aceh-Nias: Mempertanyakan Akal & Budi
Oleh Sansulung John Sum
"Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh."
-Emha Ainun Najib, budayawan
Menarik untuk kita perhatikan bahwa tidak diberitakan adanya hewan yang jadi korban bandang tsunami di Aceh dan Nias. Nyaris tak ada bangkai atau kerangka binatang di semua wilayah yang terkena bencana.
Demikian halnya di Srilanka, binatang-binatang liar di taman safari nasional Yala bergerak menuju dataran yang lebih tinggi, sesaat sebelum tsunami menerjang. Di Thailand, gajah-gajah berlarian ke bukit. Ada banyak cerita anjing-anjing menggonggong, unggas-unggas peliharaan mencoba kabur, dan kucing-kucing bersembunyi, menjelang datangnya tsunami.
Ternyata hewan mempunyai dan menguasai "ilmu" membaca alam alias insting. Dalam e-mail yang dikirimkannya kepada saya, Billi PS Lim dari negeri jiran mengatakan bahwa sebenarnya manusia pun dikaruniai ilmu yang mirip. Potensi kemampuan ini berada di otak kanan kita. Dia memberi contoh tentang sebuah komunitas nelayan di South Surin Island berlari ke gunung sebelum tsunami datang.
Di Indonesia, penduduk pulau terdekat dengan pusat gempa, yaitu Simeulue, juga selamat dari air bandang ini. Mereka selamat karena kebijakan tradisi lisannya, "Jika terjadi gempa hebat, lihatlah permukaan laut. Bila air laut surut jauh, berarti akan ada air bah datang." Walaupun ada juga enam orang yang meninggal, enampuluh limaribu orang lainnya selamat!
Bagaimana dengan ilmu pengetahuan? Sebenarnya pakar ilmu bumi bidang gempa, sudah mengingatkan kita sejak lima belas bulan sebelum bencana dahsyat ini, tepatnya pada tanggal 1 Oktober 2003. Saat itu, Dr. Danny H. Natawidjaja menuturkan bahwa zona subduksi sekitar Kepulauan Mentawai berada di ujung siklus seismik gempa berskala 9,0 skala richter.
Namun, apa boleh buat, kita sibuk dengan berbagai persoalan lain yang menghimpit bangsa kita. Kita telah melalaikan mandat ilahi sebagai "co-creator" Allah, untuk memantau dan mengendalikan hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya.
Naifnya kita, sudah terlanjur begitu kita masih bertingkah seperti makhluk tak berakal dengan berprasangka ada orang-orang yang telah membangkitkan murka Allah. Atau sudah begitu kita malah seperti manusia tak berbudi dengan mempertanyakan Allah.
Tidakkah seyogyanya kita mengakui kealpaan kita bersama dan mengambil hikmah untuk melangkah ke depan dalam kebersamaan menuju kehidupan yang lebih baik. Tidakkah kita tertantang untuk meningkatkan ilmu kita. Bukan karena kita ingin lebih sakti daripada Allah, tetapi untuk menaklukkan alam bagi kemaslahatan insan manusia.
Tidakkah kita ingin menjadi manusia yang lebih berakal dan berbudi? Tidakkah kita jadi lebih menghargai potensi diri seutuhnya yang telah dikaruniakan oleh Sang Pencipta dalam keajaiban diri kita? Dan, mengembalikan segala kemuliaan hanya kepada-Nya.
Lihat, Pelangi Itu!
Oleh Sansulung John Sum
"Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang."
-Ebiet G. Ade-
Tak tampak ada rumput yang bergoyang sekali ini. Siti Nur hanya bisa bertanya kepada Buih yang ada di dekatnya. Maka Buih memulai kisahnya yang entah pantas dijadikan hiburan mirip Finding Nemo.
Puluhan tahun sudah Buih ada di samudera itu. Di dasarnya, Buih melihat ada dua keping kerak bumi yang berusaha saling mendekat. Namun, masing-masing cuma bisa bergeser tujuh sampai delapan centimeter per tahun. Pagi di hari Ahad 26 Desember 2004, kerak benua dan kerak samudera itu berhasil bertemu. Sontak, kedua keping kerak bumi itu pun saling berhantam. Mirip manusia.
Akibatnya, air laut yang biasa dicueki dan kerap dicemari oleh manusia, pun jadi bergolak. Oo, Buih terhisab turun. Hanya dalam hitungan detik berselang, Buih dihempaskan balik ke atas dengan kecepatan ratusan kilometer perjam. Buih terseret bersama gelombang raksasa. Bergulung-gulung menuju daratan. Akhirnya, mereka menerjang tempat tinggal Siti Nur.
Beruntung, Siti Nur selamat. Demikian pula, Putra yang baru berusia 8 bulan dan Puteri 5 tahun. Dengan penuh rasa tanggung jawab, Siti Nur mati-matian melindungi mereka. Dengan tegas, orang tua kedua bocah itu menyatakan berhutang nyawa kepada Siti Nur. Entah apa jadinya jika Siti Nur tak menunjukkan kesetiaannya sebagai baby sitter mereka.*)
Dari Lhok Nga, Siti Nur bersama keluarga itu mengungsi ke Medan. Lima orang tetangga keluarga itu tewas mengenaskan. Yohana Yap, tunangan salah seorang dari yang tewas itu, tak dapat menahan rasa dukanya. Rencananya, mereka akan menikah sehari sebelum Valentine Day 2005. "Mengapa Tuhan begitu murka tanpa terlebih dahulu memberitahu dan memberi waktu untuk masuk ke dalam bahtera seperti zaman Nuh," keluh Yohana Yap.
Meskipun pertanyaan ini tak ditujukan kepadanya, Buih mulai berkisah lagi. Kemarin, matahari Medan telah menguapkan Buih, terbang ke langit, dan menyublim di awan.
Dari atas sana, Buih mengintip Yang Maha Kuasa baru saja menangis bersama segenap Indonesia raya. Buih menguping, "Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada bangsa yang telah Kuciptakan dan Kurawat dengan tangan-Ku ini." Tak lama berselang, Buih menitik turun ke bumi sambil membiaskan sebentuk pelangi di atas Banda.
Di Medan, hujan baru saja reda. Yohana Yap menengok ke angkasa. Pelangi membentang. Yang Maha Kuasa baru saja menangis bersamanya. Yang Maha Kuasa tak murka. Lihat, pelangi itu!
Catatan kaki:
*) Khusus paragraf ini terinspirasi oleh informasi dari relawan Perhimpunan INTI.
Dua Pertanyaan Yang (Tak) Klise
Oleh Sansulung John Sum
"Orang tidak bisa sampai kepada fajar kecuali melalui jalan malam. Manusia yang belum pernah mengalami penderitaan tidak akan pernah mengalami kebahagiaan. Penderitaan, andai ia bisa bersuara, akan terbukti lebih indah daripada sukacita kekidungan."
-Kahlil Gibran(1)
Klise, menurut JS Badudu(2), bisa berarti bahasa, ungkapan, gagasan yang terlalu sering digunakan yang tidak mempunyai daya gugah lagi.
Dalam kaitan dengan bencana, ada dua ungkapan, atau lebih tepatnya pertanyaan, yang sudah terlalu sering digunakan. Keduanya adalah "Mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?" dan "Mengapa harus saya?". Namun, kedua pertanyaan itu tidak lantas menjadi klise. Keduanya masih mempunyai daya gugah yang sangat kuat.
Mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?
Tatkala tsunami memporakporandakan Aceh dan Nias. Banyak orang yang tak berdosa ikut tertimpa musibah ini. Lantas, berbagai ungkapan keprihatinan meluncur dari berbagai kalangan. Sebagian, bercampur dengan ungkapan bernada protes itu, "Mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?"
Sudah tiga kali kalimat itu diumbar dalam renungan ini. Masih menggugah bukan? Namun, jawaban dari pertanyaan itulah justru yang biasanya terdengar klise. Ya, itu adalah ujian "kenaikan kelas" bagi orang baik itu. Agar dia bisa lebih merasakan "hidup". Mungkin ada benarnya, seperti terlihat dari pernyataan orang yang berada dalam pusaran musibah ini.
"Kami yakin Tuhan akan memberikan rezeki yang lebih berlimpah kepada kami," kata Meridia Maruhawa (3). "Setelah 5 hari disini saya belajar mengenai hidup, mengenai kesedihan, mengenai kehilangan, mengenai penderitaan, mengenai cinta, mengenai tanah leluhur, mengenai cinta tanah air, dan yang tidak kalah penting, mengenai makna kematian, " Candi Sinaga (4).
Mengapa harus saya?
Sejak tahun 2000, Sartono Mukadis harus hidup di atas kursi roda. Gara-gara diabetes, kaki kirinya harus diamputasi. Setelah operasi, ia malah tak bisa lagi membalikkan tubuhnya sendiri. Buang air kecil pun harus dibantu orang lain. Padahal dia adalah seorang psikolog tenar yang telah menolong banyak orang. Hal ini membuatnya, pada awalnya, merasa tidak berguna dan sangat terhina.
Suatu hari, ketika kontrol ke rumah sakit, tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal mengatakan, "Pak, Anda jangan depresi ya. Nanti Anda tidak bisa menguatkan orang lain."
Kini, bayang-bayang lembah kekelaman itu telah berlalu. Tak mau ia mengeluh, "Mengapa harus saya?" Baginya, pertanyaan itu sama saja artinya ia berharap atau beranggapan seharusnya kesusahan itu ditimpakan kepada orang lain saja. (5)
Ketika kita mengalihkan mata kita dari diri kita sendiri kepada orang lain, yang mungkin tidak lebih menderita daripada kita tetapi membutuhkan tangan kita untuk saling menolong, maka tidak ada penderitaan yang melebihi kekuatan kita untuk menanggungnya.
Referensi:
1. Spiritualitas Jalan Sunyi, Bentang Budaya, 2003
2. Kamus Kata-Kata Serapan Asing, Penerbit Buku Kompas, 2003
3. Suara Pembaruan, 3 Januari 2005
4. Suara Aceh 99 FM
5. Kompas, 17 Oktober 2004
Anda Tidak Sendirian
Oleh Sansulung Darsum
"Yang disebut kiamat oleh ulat bulu, oleh sang tuan disebut kupu-kupu."
-Richard Bach
Boleh jadi Anda termasuk orang yang setuju dengan saya. Setuju bahwa bagi penduduk Aceh dan Nias, kejadian di penghujung tahun 2004 itu adalah semikiamat. Ngeri, lirih, perih, dan pedih teramat sangat.
Malahan, dengan begitu dahsyatnya kerusakan, rasa-rasanya kepedihan ini bukan hanya milik korban langsung maupun tak langsung. Rasa-rasanya semua orang di seantero Nusantara ini punya handai taulan atau kenalan yang ditenggelamkan oleh tumpahan cawan murka laut itu. Setidaknya, kerabat dari sahabatnya atau sahabat dari kerabatnya.
Di lingkungan kediaman kami, sedikitnya ada satu tetangga kami yang kehilangan beberapa sanak-saudaranya. Sementara itu, seorang teman sejawat saya pun kehilangan kedua orang tuanya pada tanggal 26 dan 30 Desember.
Jangan-jangan Anda sendiri adalah orang yang mengalami langsung dan "hanya" cedera saja. Tentu saja, Anda tidak lolos dengan begitu saja. Anda telah berjuang superkeras untuk menghindar dari gulungan ombak bak binatang berkepala tujuh, yang setiap kepalanya berlomba menelan Anda. Suatu pengalaman traumatik yang sulit saya bayangkan sesulit membayangkan berhadapan dengan binatang buas bertanduk sepuluh.
Setelah selamat, kini Anda harus menghadapi kenyataan bahwa dunia Anda telah berubah seratus delapanpuluh derajat! Anda telah kehilangan orang tua, kakak, adik, tempat tinggal, dan semua barang milik Anda, termasuk dokumen-dokumen penting. Konkretnya dan singkatnya, Anda tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada lagi yang dapat Anda harapkan selain Yang Mahakuasa dan diri Anda sendiri.
Bahkan, Anda tidak punya waktu untuk kecewa, frustasi, dan menyesali nasib. Anda hanya punya pilihan untuk bergerak maju ke depan atau tenggelam dalam tsunami kedua yang Anda pilih sendiri. Seperti kata Harold Mayfield, "Kemajuan adalah ibarat gelombang. Kalau kita diam saja, pasti kita akan tenggelam. Agar tak tersedot arus pusaran, kita harus terus bergerak."
Tatkala Anda telah memilih untuk bergerak maju dengan tekad yang bulat, hanya Tuhan yang sanggup menghentikan Anda. Betapa kekuatan tekad bulat itu dapat menerobos hal-hal yang mustahil. Tiada mission yang impossible bagi orang yang bertekad bulat. Keterbatasan bukan menjadi alasan yang menghalangi, tetapi diatasinya. Kenihilan bukan dianggap jalan buntu, tetapi dicari jalan keluarnya.
Tekad bulat akan membuat Anda kehilangan beberapa teman. Mungkin teman akrab Anda. Yaitu, keraguan, kecemasan, kemalasan, dan keputus-asaan. Mungkin dahulu Anda berteman akrab dengan salah satu di antaranya. Kini, dengan rasa nothing to lose, Anda bisa memulai sebuah awal yang baru, hari yang baru. Seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong yang gelap dan sesak. Bayangkan, seolah-olah Anda adalah bayi yang baru lahir ke dunia ini. Bukankah ini yang disebut rahmat di masa kalut, kesempatan dalam kesempitan?
Teman-teman dari tekad bulat yang siap menolong Anda menuju hari depan yang gemilang adalah tegar, gigih, ulet, dan yakin. Ajaklah mereka. Anda tidak sendirian.



